Wednesday, 2017-11-22, 10:35 AM

GANDUSARI TRENGGALEK


Tepatnya, adalah di Dusun Dawuhan, Desa Sukorejo Kecamatan Gandusari, Perlu di ketahui; Balai Desa Sukorejo pun juga terdapat pada wilayah Dusun Dawuhan. Daerah ini dengan nyata tersebutkan dalam Prasasti Kampak (851 syaka atau 929 Masehi). Di sebutkan sebagai salah satu kawasan yang berbatasan dengan MAHA SAMUDRA dalam Prasasti Kampak. Perlu diketahui bahwa Prasasti Kampak yang merupakan Simbol Pemberian kemerdekaan Oleh Empu Sendok bagi masyarakat Kampak dan sekitarnya, Karena telah Ikut Membantu dalam perjuangan merebut kembali Pemerintahan. Perdikan Kampak merupakan tonggak sejarah Kabupaten Trenggalek yang tak dapat diabaikan. Lahirnya perdikan kampak ditandai dengan adanya prasasti kampak yang dibuat oleh Raja Sendok .

Dalam cerita Rakyat, bahkan di sebutkan bahwa Pusat Pemerintahan Kabupaten Trenggalek dahulu Berada di daerah Desa Jajar, Kecamatan Gandusari.Meski Cerita Rakyat ini belum bisa di benarkan dengan bukti-2 sejarah. Namun memang di daerah gandusari di jumpai beberapa peninggalan Kuno. Dahulu (meski telah memasuki abad ke-19), Ketika Ajaran Islam belum begitu mewarnai corak budaya masyarakat Gandusari, Masyarakat Trenggalek masih melaksanakan Sembah Bumi di PUNDAK (Batu; yang di anggap dapat memberikan Kesuburan Tanaman Pangan). Pundak atau Tempat sesajen Tersebut terletak sekitar 300 M, d belakang Balai Desa Sukorejo(Sekarang). Sayangnya Batu Tersebut sekarang Tidak Terawat, Bahkan Mungkin Lepas dari Penelitian Para Ahli Arkeologi.Catatan; Peninggalan ini musti diteliti oleh para ahli. Dilihat dari tingkat Ekonomi Sosial dan Budaya; Masyarakat Gandusari, hususnya Desa Sukorejo; Memang tidak dapat di pungkiri, asyarakat Desa ini lebih maju pola pikirnya di banding dengan Kawasan Lainnya.di sana dapat di jumpai banyak sekali Industri-Industri Rumahan; Genteng, Tekstil, Anyaman, Batik, kripik Tempe, dll. Wilayahnya Luas, di banding Desa-desa Lainnya, Bahkan Yayasan Al Azar pun Lebih Memilih Desa Sukorejo sebagai tempat mendirikan Institusi dengan alasan memang secara Ekonomi dan Budaya Lebih Maju di banding dengan Mayarakat di Pusat Kota Trenggalek sekalipun.

Dari prasati itu dapat diketahui bahwa Trenggalek pada masa itu sudah memiliki daerah daerah yang mendapatkan hak otonomi atau swantara lebih jelas lagi diketengahkan bahwa Perdikan Kampak berbatasan dengan mahasamudera (Samudera Indonesia ) disebelah selatan yang pada waktu itu wilayahnya meliputi Panggul, Munjungan dan Prigi. Selanjutnya disinggung pula daerah Dawuhan yang sekarang daerah ini juga masih dapat dijumpai di Trenggalek. Setelah masa Mpu Sindok dengan melalui masa Raja Dharmawangsa lahirlah di Jawa Timur kerajaan Kahuripan yang diperintah oleh Raja Airlangga. Hanya sayangnya pada masa ini tidak banyak diketahui kesejarahannya, dikarenakan tidak ditemuinya data atau mungkin belum ditemukannya data tentang masa tersebut. Namun tidak bisa disangkal bahwa wilayah Trenggalek termasuk dalam kawasan Kahuripan yang kemudian berkesinambungan menjadi wilayah kerajaan Kediri. Dari zaman Kediri hanya ada beberapa hal yang dapat dicatat, utamanya pada masa ini munculnya prasasti Kamulan yang terletak di Desa Kamulan Kecamatan Durenan Kabupaten Trenggalek.

 
 
Sekilas Trenggalek 


     
 
           Diantara Kabupaten lain dipropinsi Jawa Timur, Trenggalek adalah salah satu yang memiliki perekonomian yang lemah. Sebagian besar penduduk mengandalkan hidup dari hasil pertanian, sisanya dari peternakan, perkebunan, kerajinan dan penangkapan ikan. Trenggalek juga memiliki bahan-bahan tambang yang belum dikembangkan/digali. Misalnya Kalsit, Marmer, Diorite, Brobos, Toseki, Andesit, dll.

Pertanian

Pertanian di Trenggalek belum dikembangkan secara maksimal, sehingga belum mampu mencukupi kebutuhan seluruh masyarakat dalam hal pangan maupun kebutuhan sehari-hari. Pergantian musim yang tidak teratur sangat mempengaruhi penghasilan petani. Sistem pengairan yang kurang optimum dan kemarau panjang sering menjadi hambatan bercocok tanam. Kondisi tersebut masih sering diperburuk dengan banjir dimusim hujan yang mengakibatkan produksi pangan menurun.

Pemasaran hasil pertanian pun sering kurang menguntungkan petani. Pemerintah tidak memberlakukan patokan harga untuk melindungi mereka. Sehingga sering kita dengar adanya calo atau koperasi tertentu yang suka memanipulasi harga.

Perkebunan

Beberapa daerah diTrenggalek terkenal sebagai penghasil utama berbagai buah-buahan di Jawa Timur misalnya kopi, jeruk, mangga, rambutan, duren, manggis. Pemda Trenggalek masih harus melakukan beberapa penyuluhan kepada masyarakat tentang tatacara pemeliharaan dan penanganan terhadap hama untuk tanaman ini.

Hasil perkebunan terbesar di Trenggalek dan mungkin terbesar di Jawa adalah cengkeh. Perkebunan cengkeh terluas terletak di kecamatan Munjungan,Watulimo dan Dongko yang berada di ketinggian diatas 500 m diatas permukaan laut. Sebelum diberlakukannya peraturan baru tentang tata niaga cengkeh antara tahun 1991-1998, petani didaerah ini memiliki taraf hidup yang bagus. Namun sayang, ketentuan baru tersebut kurang memihak pada mereka, sehingga beberapa diantara mereka membiarkan perkebunan nya terbengkalai sebagai protes terhadap pemerintah.

Trenggalek pernah meraih penghargaan Parasamya Purnakarya Nugraha dari Presiden karena berhasil mengembangkan cengkeh.

Hasil perkebunan yang lain adalah kopi yang telah berkembang sejak pemerintahan Hindia Belanda. Di Kec Bendungan terdapat area perkebunan kopi seluas 360 hektar yang beroperasi sejak tahun 1946.

Kerajinan

Mata pencaharian masyarakat Trenggalek yang lain adalah kerajianan. Kerajinan anyaman bambu banyak dikembangkan di desa Wonoanti Gandusari dan sumber Gayam di Durenan. Batik tradisional masih di tekuni masyarakat desa Ngentrong dan kelurahan Sumber Gedong. Kerajinan marmer juga meluas di desa Banjar, Panggul. Sementara usaha bordir dan konfeksi berkembang di desa Kamulan, Durenan dan desa Sukorejo Gandusari.

Pande besi, usaha memproduksi alat-alat pertanian secara tradisional masih berjalan diTrenggalek. Walaupun kemajuan industri mampu menghasilkan barang serupa dengan kwalitas yang lebih bagus, namun hasil produksi mereka masih mendapatkan tempat dimasyarakat dengan harga yang bersaing.

Perikanan

Trenggalek memiliki pelabuhan ikan terbesar setelah Cilacap di pantai selatan pulau Jawa. Pengembangan potensi perikanan mulai direalizasikan dengan pembangunan pelabuhan ekspor hasil perikanan diPantai Prigi dengan dukungan dana sebesar Rp 120 milyar dari APBN. Pengucuran dana ini diharapkan bisa mengentaskan kemiskinan para nelayan setempat.

Masih banyak sumber daya alam di Trenggalek yang belum dikembangkan karena sedikitnya minat investasi di Trenggalek. Tenaga kerja yang murah dan perbaikan transportasi merupakan asset besar yang bisa ditawarkan Kab. Trenggalek.


Kalo Anda berkunjung ke Trenggalek, jangan lupakan jajanan khas dari dapur Trenggalek berupa kripik Tempe, Manco, Alen-alen, Sale pisang, dll.



Free web hostinguCoz Free web hostinguCoz